Sabtu, 04 April 2015

BUNGA





Menyakitkan..

Entah kenapa, aku pun tak mengerti..

Mungkin ini akibat terlalu berharap dan menggatungkan sepenuhnya pada harapan itu…


RASIONAL, RASIONAL, RASIONAL

Kata itu selalu terkonsep dalam ingatanku, mencoba diterapkan sepenuhnya tapi rasanya sia-sia entah mengapa..

Selalu berakhir dengan kata NIHIL !


Mungkin benar Hatiku Ibarat sebuah “BUNGA“ saat disiram akan mekar berseri dan ketika tanpa air layu.

Ah, bukankah aku tlah terbiasa dengan perasaan ini ?

Bukankah tlah berkali-kali seperti ini ?

Bukankah selalu,selalu dan selalu berakhir seperti ini ?


Harusnya aku sadar,

Harusnya aku paham,

Dan Harusnya aku mengerti.


Untuk apa bertahan ?

Untuk apa percaya ?

Untuk apa peduli ?

Toh pada akhirnya seperti ini !

Manusia memang slalu dibodohi dgn perasaan !

MUNGKIN




Rasa ini jauh lebih menyakitkan dari kehilangan...
Spekulasi yang slama ini aku buat terbukti sudah..
Tak ada lagi pikiran positif yang ada di dalam otak ini.
Hal yang slalu aku takuti slama ini mulai terbukti.
Mungkin tak semua, tapi satu per satu..
Perlahan-lahan tapi pasti..

Bukan sekedar ILUSI atau IMAJINASI belaka..
Tapi ini FAKTA NYATA!!!
Memang benar aku terlalu takut kehilangan,.
Terlalu takut di lupakan,.
Terlalu takut di campakkan..
Runtuh sudah harapan-harapan yang telah aku junjung setinggi langit..
Jatuh ke dasar jurang dalam..
Menyakitkan...

Bolehkah aku bersikap EGOIS sedikit saja ?
Mungkin TIDAK !
Dia juga butuh kebahagiaan..
Siapa yang harus disalahkan disini ?
Mungkinkah AKU ?
Atau TAKDIR ?

Mungkin inilah cara TUHAN menyayangiku..
Mungkin inilah cara TUHAN mengujiku..
MUNGKIN...

Kamis, 19 Maret 2015

HATI






Mengharap sebesar gunung , apa daya tak sebesar itu.

Mengharap seluas ombak laut menggulung , apa daya tak seluas itu.

Mengharap secerah mentari, apa daya tak secerah itu.

Mengharap seindah rembulan ,apa daya tak seindah itu.

                   
                  Hati...
                  Mampu merasa tak mampu berucap.

                  Mampu menatap tak mampu berujar.

                  Mampu menangis tak mampu berpaling.
                  Mampu tersenyum tak mampu melepas.


Hati..

Mampu menunggu tak mampu menahan cemburu.

Mampu curiga tak mampu berpindah.

Mampu gelisah tak mampu berkata.

Mampu merindu tak mampu kecewa.

Jumat, 14 November 2014

AKU



Tepatnya setahun lalu penyakit itu menggerogoti orang yang sangat aku sayangi. Berbagai pengobatan telah dijalani tapi takdir berkata lain. Sering aku teringat semua memori tentangnya. Terkadang aku bertanya rindukah beliau padaku ? lebih tepatnya pada kedua putri dan suaminya?

Beliau pasti merasa sangat bersalah dan sedih karena harus meninggalkan kami. Meninggalkan kedua putrinya dan belum sempat melihat kedua putrinya menikah dengan pria pilihannya. Dan meninggalkan seorang suami yang sangat dihormati dan disayanginya.

Terkadang jujur saja aku merasa terbebani dengan tanggung jawab yang seharusnya menjadi tanggung jawab beliau yang dilimpahkan padaku. Mungkin aku tak sesabar beliau yang mampu mengajarkan hal pada putrinya yang paling kecil. Dan aku tak sesempurna beliau dalam menjalankan tugasnya.

Pernah suatu kali adikku yang baru memasuki usia 12 tahun tidak mampu melakukan hal dengan benar. Aku saat itu hanya bisa memarahinya dan mengomelinya. Malam itu sebelum tidur ayahku melihatnya menangis, saat ditanya jawabnya “Aku kangen ibu”.  Seketika air mata ini tak bisa berhenti mengalir. Aku merasa jadi kakak yang tidak berguna dan aku telah gagal menjadi seorang ibu untuknya.

Pernah berkali-kali aku mengingkari janji yang telah aku buat sebelumya. Aku berjanji menjemputnya sepulang sekolah tapi aku tak dapat menepatinya. Dan sesampainya dirumah dia hanya berkata “tidak apa-apa”. Dia berusaha memahami posisiku saat itu.

Dan untuk saat ini aku berusaha melindungi dan menjaganya dengan caraku sendiri mungkin tak seperti ibu yang menunjukkannya dalam bentuk kasih sayangnya. Aku berusaha memahaminya , aku berusaha selalu ada saat dia butuh, aku berusaha selalu menjadi orang pertama yang mendengarkan keluh kesahnya, aku akan berusaha mengawasi segala aktivitasnya, aku berusaha membuatnya senang , aku berusaha menjadi teman,sahabat dan kakak yang baik untuknya. Mungkin aku tak bisa menggantikan sosok ibu tapi aku akan berusaha menjadi kakak yang baik. Aku akan berusaha mengajarkan sikap tanggung jawab dan mandiri padanya mungkin memang terkadang caraku membuatnya kesal, marah atau jengkel tapi inilah aku. Aku harap dia bisa mengerti. Aku berusaha menjadi sosok yang teladan untuknya. 

Tak dapat menggantikan sosok seorang ibu bukan berarti aku tak bisa membahagiakannya bukan ? :)